Menjadi Penilai

by unlumo

Jangan pikir dengan segudang aktivitas amal sosial kita, membuat kita bisa membusungkan dada. Karena boleh jadi dibalik kegiatan itu ada niat gelap yang tidak disadari.

Jangan pikir dengan aktivitas amal ibadah kita yang segudang membuat kita berpikir bahwa Allah menyanyangi kita. Karena bisa jadi kita melakukan semua itu agar kita disukai orang dan dikatakan baik.

Jangan pikir orang yang sedikit aktivitas amal sosial membuat kita memandang bahwa ia adalah manusia yang tidak produktif. Karena boleh jadi mata kita yang terlalu terbatas untuk melihat setiap detik apa yang telah ia kerjakan.

Jangan pikir orang yang sedikit amal ibadahnya membuat kita menganggap ruhiyah didirinya tidak berasa. Karena boleh jadi sekali lagi mata kita yang tidak bisa menembus untuk melihat pikirannya. Tahu-tahu ternyata dia selalu bertafakur.

Jangan pernah menilai segala hal, sekecil apapun dengan penilai dangkal kita. Penglihatan yang terbatas , pendengaran yang terbatas , dan segala keterbatasan yang kita miliki tidak akan bisa melihat secara adil dan menyeluruh.

Karena IA melihat makhluk-Nya dari hati.. Sedangkan mata manusia sangat terbatas untuk bisa melihat kedalam hati. Jangan andalkan perasaanmu karena boleh jadi 99%  salah. Jika masih ada penilain ‘buruk’/ memandang rendah/ melihat dari siapa yg berbicara  maka itu pertanda kita adalah penilai yang buruk. Jadi jangan coba-coba memberi penilaian.

Penilai yang baik adalah yang selalu bisa melihat sisi postif  walaupun terhadap seorang penjahat.

Lihat lah anak kecil maka kau akan belajar banyak dari mereka

Info penting :p

Lokasi Foto: Taman depan rumah Ibu Yusni.
Sang Photografer: Yulchaidar Atika.
Komentar dari penulis: Taman sudah sangat rapi, apa karena ada pembantu baru? -tersangka: yang megang keresek merah 😀
Terima kasih ka atas fotonya :)..

Advertisements